Menelusuri Sejarah Nusantara: Candi Ngawen

advertisement

Menelusuri Sejarah Nusantara: Candi Ngawen - Satu lagi sebuah saksi sejarah Nusantara yang berada di Jawa Tengah, tepatnya di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Magelang. lokasinya hanya berjarak sekitar 5 km dengan Candi Mendut. Candi Ngawen memang tidak seterkenal Candi Mendut apalagi Candi Borobudur. Candi Ngawen ini hanya merupakan candi berukuran kecil, namun tetap saja pemandangannya eksotis untuk dilihat. Candi ini berada di tengah-tengah sawah dan ketinggiannya lebih rendah daripada sawah serta jalan yang mengelilinginya.

Candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 tepatnya pada zaman Kerajaan Mataram Kuno ini dibuat oleh wangsa Sailendra. Candi Ngawen ini tercantum dalam sebuah prasasti yaitu Prasasti Karang Tengah yang ditulis tahun 824 M. Dalam prasasti, Candi Ngawen ini disebut sebagai bangunan suci yang dinamakan dalam bahasa Sanskerta dengan Venuvana, yang berarti Hutan Bambu. Candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda, Hoepermans, pada tahun 1864. Candi ini hanya satu kali dipugar, yaitu pada tahun 1927. Dan sejak itu, tidak ada lagi upaya pemugaran candi ini. Salah satu sebabnya adalah karena ornamen atau batu yang hilang atau belum ditemukan di sekitar candi. Hal ini menyulitkan upaya pemugaran Candi Ngawen seutuhnya.

Kondisi komplek Candi Ngawen ini sedikit memprihatinkan, karena seluruh candi yang berada di komplek Candi Ngawen ini belum dipugar sempurna. Sebenarnya dalam komplek candi ini terdapat 5 buah candi kecil, yaitu 2 buah candi di bagian timur, dan 3 buah candi di bagian barat. Namun candi yang kondisinya utuh hanya satu buah candi yang tidak beratap. Candi yang lainnya masih berbentuk reruntuhan dan tumpukan bata, menunggu untuk dipugar dan direstorasi ke bentuknya semula.

Pada candi satu-satunya yang utuh, terdapat hal lain yang semakin menunjukkan kondisi memprihatinkan dari candi ini. Persis di tengah bangunan candi, terdapat sebuah patung Buddha yang tidak memiliki kepala. Seram> Ya, sedikit seram dan terlihat mengerikan. Sebuah patung Buddha yang sedang duduk dengan posisi Ratnasambawa ini mengundang misteri karena belum terjawab pasti alasan hilangnya kepala Sang Buddha. Entah rusak atau dicuri oknum yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, kondisi dinding bangunan candi yang ditumbuhi lumut, serta banyaknya kubangan air semakin menunjukkan bahwa candi ini tidak dilestarikan dengan baik.

Di sisi lain bangunan candi satu-satunya ini, ditemukan relief ukiran Kinnari, Kinnara dan kala-makara. Selain itu, nampak juga beberapa patung singa yang menghiasi sisi-sisi bangunan candi. Uniknya, patung singa ini pasti ada di setiap sudut candi, dan selalu berjumlah 4 buah patung. Patung-patung singa ini memiliki jenis kelamin laki-laki, nampak dari pahatan alat kelamin pada tubuh patung. Semakin unik lagi karena ternyata pada bagian mulut patung, terdapat semacam pipa saluran air. Belum jelas juga fungsi dari pipa ini, apakah untuk pengairan atau air untuk sembahyang.

Untuk menikmati panorama komplek Candi Ngawen yang indah dengan nuansa hijau di tengah pedesaan dan persawahan ini, datanglah kapan saja karena komplek Candi Ngawen dibuka untuk umum dari hari Senin sampai Minggu. Dibuka dari pukul 8 pagi hingga pukul 4.30 sore. Jangan khawatir, untuk menyaksikan bagian kecil sejarah Nusantara ini, Anda tidak perlu membayar sepeser pun alias gratis. Anda hanya akan diminta mengisi buku tamu yang berisi nama, alamat, tujuan kedatangan ke sana, serta kesan Anda tentang Candi Ngawen.
advertisement
0 Komentar untuk "Menelusuri Sejarah Nusantara: Candi Ngawen"

Back To Top