advertisement
Menelusuri Jejak Sejarah Nusantara: Candi Badut - Jawa Timur memiliki beberapa obyek wisata sejarah yang dapat menceritakan Anda berbagai sejarah penting tentang Nusantara di masa lalu. Salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki saksi sejarah itu adalah kota Malang. Malang yang kini cukup populer sebagai destinasi wisata dengan andalan kawasan Batu-nya memiliki wisata sejarah yang dapat Anda kunjungi. Candi Badut adalah salah satu candi yang berada di Malang. Jangan harap untuk melihat candi berbentuk badut dengan pakaiannya yang warna-warni dan hidung merah lucunya. Asal muasal nama 'Badut' dari candi ini berasal dari kata "Bha-Dyut". Bha-Dyut dalam bahasa Sanskerta artinya adalah sorot Agastya, atau sorot Bintang Canopus.
Selain Candi Badut, candi ini juga kerap disebut sebagai “Candi Liswa”. Liswa sendiri merupakan nama seorang raja yang tertulis dalam prasasti Dinoyo. Prasasti yang ditulis pada tahun 760 masehi ini menceritakan tentang seorang raja bernama Dewa Singa. Raja tersebut kemudian memiliki seorang anak yaitu Raja Gajayana, pelopor dari bangunan Candi Badut ini. Diceritakan juga bahwa Raja Gajayana pada waktu itu membuat bangunan Candi Badut sebagai tempat bernaung sebuah arca baru yaitu Arca Agastya yang dapat Anda lihat kini di dalam candi untuk menggantikan arca lama yang sudah lapuk.
Dibuatnya Arca Agastya tersebut dimaksudkan untuk mengentaskan wabah penyakit di sana pada waktu itu. Nah, Liswa adalah nama lain Raja Gajayana tersebut, yang dalam bahasa Sanskerta berarti tukang tari, yang lalu dalam bahasa Jawa disebut dengan badut. Kebetulan sekali, ya?Candi ini termasuk candi yang jarang dikunjungi oleh wisatawan. Mungkin karena letaknya yang berada di kawasan yang agak terpencil, tepatnya di dusun Karangbesuki, kecamatan Dau. Jarak Candi Badut ini dari pusat kota Malang adalah sekitar 10 km.
Dibuatnya Arca Agastya tersebut dimaksudkan untuk mengentaskan wabah penyakit di sana pada waktu itu. Nah, Liswa adalah nama lain Raja Gajayana tersebut, yang dalam bahasa Sanskerta berarti tukang tari, yang lalu dalam bahasa Jawa disebut dengan badut. Kebetulan sekali, ya?Candi ini termasuk candi yang jarang dikunjungi oleh wisatawan. Mungkin karena letaknya yang berada di kawasan yang agak terpencil, tepatnya di dusun Karangbesuki, kecamatan Dau. Jarak Candi Badut ini dari pusat kota Malang adalah sekitar 10 km.
Candi Badut adalah saksi bisu sejarah Nusantara yang sudah berusia sekitar 1400 tahun. Dibangun pada tahun 760 Masehi, Candi Badut merupakan salah satu peninggalan Prabu Gajayana, seorang penguasa di Kerajaan Kanjuruhan. Usianya yang sudah mencapai 1400 tahun menjadikan Candi Badut dipertimbangkan sebagai candi tertua yang ditemukan di Jawa Timur. EW Maureen Brecher, seorang pakar arkeologi berkebangsaan Belanda, adalah orang yang pertama kali menemukan candi yang kerap disebut sebagai Candi Liswa ini pada tahun 1921. Pada saat ditemukan pertama kali, candi ini masih terkubur tanah dan ditumbuhi oleh pepohonan yang besar, serta lokasinya berada di tengah-tengah sawah.
Kondisi candi saat itu pun sudah runtuh dan hanya tersisa bagian bawah atau bagian kakinya saja. Setelah dipugar dan diperbaiki sebanyak 2 kali pada tahun 1925-1926 dan tahun 1990-1991, kini Candi Badut sudah dipagari dan memiliki fasilitas pendukung walaupun kurang memadai yaitu satu buah kamar mandi, satu buah tempat informasi dan area parkir yang tidak dijaga dengan baik. Berbagai batuan reruntuhan candi lain terlihat mengelilingi Candi Badut ini. Menempati lahan seluas 2808 m2, candi ini dikelilingi oleh pegunungan serta menghadap ke arah barat.
Latar belakang khas agama Hindu sangat kental terlihat pada bangunan Candi Badut. Pada candi ini, terdapat beberapa arca seperti arca Mahisasuramardini, arca Durga dan arca Nandi. Selain itu, terdapat juga ruang-ruang kosong yang diperkirakan seharusnya menjadi tempat arca dewa-dewa Hindu. Ada juga arca Lingga-Yoni pada bangunan candi ini yang dipercaya menggantikan arca Siwa arca yang menjadi pusat pemujaan pada ajaran Hindu-Siwa. Selain beberapa arca yang masih utuh tadi, ditemukan juga beberapa arca yang sudah rusak atau kondisinya yang tidak utuh, yaitu arca Agastya, arca Ganesha, arca Nadiswara dan arca Mahakal.
Latar belakang khas agama Hindu sangat kental terlihat pada bangunan Candi Badut. Pada candi ini, terdapat beberapa arca seperti arca Mahisasuramardini, arca Durga dan arca Nandi. Selain itu, terdapat juga ruang-ruang kosong yang diperkirakan seharusnya menjadi tempat arca dewa-dewa Hindu. Ada juga arca Lingga-Yoni pada bangunan candi ini yang dipercaya menggantikan arca Siwa arca yang menjadi pusat pemujaan pada ajaran Hindu-Siwa. Selain beberapa arca yang masih utuh tadi, ditemukan juga beberapa arca yang sudah rusak atau kondisinya yang tidak utuh, yaitu arca Agastya, arca Ganesha, arca Nadiswara dan arca Mahakal.
Jika Anda menginginkan pengalaman wisata sejarah di tempat yang sepi, tenang, juga sejuk, datanglah ke komplek Candi Badut ini tanpa dikenakan biaya apa pun, alias gratis. Candi Badut buka setiap hari, dari pukul 8 pagi hingga pukul 3 sore.
advertisement
Tag :
wisata sejarah

0 Komentar untuk "Menelusuri Jejak Sejarah Nusantara: Candi Badut"